Beginilah Rasanya Menulis Novel Keroyokan

Novel Lenka

Sekitar enam tahun lalu, aku bersama kawan-kawan Sarekat Penulis Kuping Hitam (SPKH), bersama-sama menulis sebuah novel. Mungkin pengalaman itu tak akan bisa aku ulangi.

Supaya kalian bisa ikut merasakan serunya waktu kami menggarap novel Lenka, di bawah ini aku pamerkan salah satu jejaknya. Tulisan di bawah ini dikirimkan oleh dua orang rekanku di SPKH: warna merah dari ‘Sesat Timur’ dan warna hitam dari ‘Racun Barat’. Sementara tulisanku berwarna biru.

Kawan-kawanku ini sedang membantai dua bab yang aku tuliskan.

Komentar 1

komentar 2

 

komentar 3

komentar 4

 

Alasan Menyukai Thriller

Adrenalin Junkies

Mengapa orang menyukai thriller?

Tulisan ini bukan hasil penelitian, cuma sebuah renungan dari pengalaman pribadi.

Menurutku, ada kemungkinan orang menyukai thriller karena terpapar cerita-cerita seru–entah dari cerpen, novel, film, ataupun dongeng dan bualan–di masa kecil. Kebanyakan orang yang kutahu menyukai thriller punya sejarah seperti itu.

Orang membaca cerita fiksi populer pada umumnya untuk mendapatkan hiburan. Hiburan itu salah satu kebutuhan sekunder menurutku. Kalau kau tidak mendapatkan hiburan darimana pun, kau mungkin akan bersenandung, bergumam, atau mengetuk-ngetukan jemari. Membaca fiksi, membuat orang terhibur karena untuk sementara bisa keluar dari situasi dan kehidupan sehari-hari, Ia pun bisa berkelana ke tempat-lain tanpa berpindah tempat. Orang juga bisa merasakan berbagai situasi dan kondisi tokoh-tokoh dalam cerita. Hal-hal tersebut sebenarnya dengan gampang dilakukan dan dirasakan anak kecil.

Kalau kuperhatikan anakku yang masih berusia lima tahun, ia dengan gampang pergi ke luar angkasa, merasakan mengendalikan pesawat dan robot, ataupun bertarung dengan monster-monster. Modalnya cuma mainan dari plastik, kain-kain yang diikat, ataupun topeng. Kemampuan luar biasa itu dengan cepat menghilang ketika beranjak remaja. Namun, dengan membaca fiksi, orang bisa memelihara kemampuan berimajinasi itu.

Aku membayangkan, role playing dan membaca fiksi itu sama dengan menjalankan program simulasi di pikiran. Di kehidupan nyata, sangat susah dan berisiko kalau kau tiba-tiba memutuskan untuk menjadi detektif dan mengejar perampok dan pembunuh. Nah, membaca fiksi membuatmu bisa menjalankan simulasi tentang bagaimana rasanya menjadi seorang detektif.  Itu fiksi pada umumnya, namun kembali ke pertanyaan awal, mengapa thriller, bukan genre yang lain?

Kesamaan semua sub-genre thriller adalah emosi yang ingin dibangkitkan, yaitu: ketegangan, rasa takut, dan keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan risiko besar. Jika kau ingin bermain-main dengan situasi berbahaya tanpa membahayakan dirimu, thriller menawarkan hal itu.

Membaca novel thriller adalah cara teraman untuk merasakan situasi ekstrim dan berbahaya.

Aku yakin masih banyak alasan lain mengapa orang menyukai thriller. Jika Bung dan Nona tahu alasan lain, silakan tulis di bagian komentar.

Salam.

Genre Thriller

genre thriller

Ketika kau membuka novel thriller, mungkin kau akan membayangkan adegan kejar-kejaran, tembak-tembakan, ataupun misteri rumit yang harus dipecahkan. Bisa juga kau membayangkan akan disuguhkan adegan menakutkan, dan makhluk-makhluk mengerikan. Novel genre ini memang sangat luas temanya. International Thriller Writers (http://thrillerwriters.org/aboutitw/), asosiasinya penulis Thriller Internasional–mengatakan novel thriller mencakup cerita bertema pembunuhan, misteri, detektif, suspense, horor, supranatural, spionase, kriminal, perang, petualangan, dan tema-tema semacam itu.

Meski temanya beragam, novel genre ini punya banyak kesamaan. Antara lain: tempo cerita yang cepat, narasinya sederhana dan tidak berbunga-bunga, punya banyak adegan action, punya plot twist, mampu membangkitkan ketegangan, kengerian, dan berusaha membuat adrenalin pembaca mengalir deras.

Dalam perkembangannya, genre triller membentuk banyak sub genre. Sub-genre tersebut terbentuk karena banyak pihak yang berkepentingan untuk memecahnya menjadi kelompok yang lebih spesifik. Penerbit misalnya, perlu untuk menandai ciri-ciri novel yang akan ia sasar. Toko buku perlu untuk kepentingan pencatatan gudang juga penempatan buku di rak. Demikian pula dengan pembaca dan penulis.

Ketika membeli novel, pembaca pasti punya perkiraan tentang cerita yang ia harapkan. Bagi pembaca, membeli novel mirip dengan memesan makanan. Ketika memesan pizza misalnya, maka ia akan berharap disuguhi roti berbentuk bundar dan tipis untuk pizza ala Italia atau agak tebal untuk pizza ala Amerika. Makanan tersebut harus punya rasa yang gurih, asin, dan berkeju. Mungkin akan ada sayur, ikan, ataupun sosis. Seandainya pesanan yang datang berbentuk roti bulat, agak tebal, berminyak, dan berisi keju, kacang, dan coklat, maka si pemesan pasti akan protes. Ia pesan pizza bukan martabak.

beda genre

Meski sama-sama terbuat dari tepung dan berbentuk bulat, tapi martabak dan pizza berbeda jenis. Demikian pula dengan pembaca. Ketika seorang pembaca membeli buku bergenre spy misalnya, maka ia akan berharap tokoh dalam cerita adalah seorang agen rahasia dan novel itu akan bercerita tentang kehidupan, pekerjaan, dan konflik seputar dunia intelijen rahasia. Karena itu pembaca perlu punya pengetahuan tentang genre.

Di sisi lain, penulis juga perlu paham genre novel yang ia tulis karena penulislah koki dari novel. Penulis memang harus kreatif, tetapi sebaiknya melihat juga pola dan batasan-batasan dari genre yang ia tulis. Jangan sampai ia membuatkan martabak kepada para pemesan pizza.

Begitulah. Mengetahui sub-genre berguna agar tidak kecele.
Berikut ini beberapa sub-genre thriller/suspense yang kudapat dari berbagai sumber:

Conspiracy-Thriller: Sub genre ini punya ciri protagonisnya berkonfilk dengan kelompok besar dan berkuasa. Di dalam cerita, sang protagonis biasanya dianggap ancaman yang harus dilenyapkan oleh kelompok tersebut  karena sang protagonis mengetahui rahasia atau kejahatan kelompok tersebut.

Crime: Crime atau cerita kriminal bisa bercerita tentang kehidupan seorang penjahat atau tentang misteri suatu kejahatan yang harus dibongkar. Untuk hal yang terakhir, sub-genre ini tumpang tindih dengan sub-genre detektif.

Disaster: Biasanya bercerita tentang perjuangan protagonis saat berhadapan dengan bencana, bisa bencana alam seperti badai, gempa bumi, dan  lain-lain, bisa juga kecelakaan atau musibah yang disebabkan oleh manusia seperti kecelakaan pesawat, kapal, wabah penyakit, dan lain-lain.

Eco-Thrillers: Bencana lingkungan yang disebabkan oleh ulah sekelompok orang menjadi tema utama. Protagonis dalam cerita ini biasanya berjuang untuk memperbaiki masalah itu sekaligus berjuang melawan  orang atau kelompok yang bertanggung jawab atas terjadinya bencana.

Spionase/Spy-Thrillers: Novel spionase biasanya bercerita tentang konflik antara seorang agen atau dinas intelijen rahasia melawan agen atau dinas intelijen rahasia lainnya. Sering juga yang menjadi lawannya adalah kelompok teroris.

Horor: Cerita untuk menakut-nakuti pembaca. Sering menampilkan monster seperti vampir atau drakula atau tokoh yang jahat bak monster. Ketakutan, adegan kekerasan, dan pembunuhan menjadi komponen penting dalam genre ini.

Legal-Thrillers: Pengacara dan ahli hukum menjadi tokoh utama di sub-genre ini. Konflik bisa terjadi di dalam ataupun luar ruang sidang.

Medical-Thrillers: Tema cerita seputar ancaman dari dunia kesehatan–seperti virus. Menampilkan dokter atau ahli kesehatan lain sebagai karakter utama.

Military: Temanya berkisar tentang usaha seorang atau kelompok pasukan khusus dalam menjalankan misi–biasanya untuk melumpuhkan musuh.

Police Procedural: adalah cerita detektif untuk mengungkap sebuah kasus yang dibuat sedemikian rupa sehingga mengikuti prosedur yang dilakukan polisi di dunia nyata.

Political Intrigue: Bercerita tentang konflik di sekitar dunia politik. Karakter utama biasanya anggota suatu kelompok politik dan berusaha untuk menghilangkan ancaman yang menerjang kelompoknya.

Psychological: Kejiwaan dan ketidakstabilan mental karakter menjadi komponen utama dalam genre ini.

Supernatural/Paranormal: Genre ini beririsan dengan genre fantasi. Tokoh dalam cerita ini– entah itu protagonis, antagonis, atau mungkin keduanya–punya kekuatan supranatural.

Technological/Techno-Thrillers: Terima kasih buat om Tom Clancy yang telah menciptakan sub-genre ini. Genre ini juga sering beririsan dengan science-fiction. Dalam cerita techno-triller, teknologi menjadi komponen penting. Biasanya konflik terjadi karena terciptanya atau ditemukannya teknologi baru, contohnya komputer super yang bisa berpikir seperti manusia dan ingin menguasai dunia, atau teknologi untuk menciptakan manusia super.

Referensi: